You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Kartamulia
Desa Kartamulia

Kec. Sukamara, Kab. Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah

Call Center 0851-4158-7820

Sejarah Desa Kartamulia

Operator Desa 04 Januari 2024 Dibaca 288 Kali

Pada sekitar abad ke-19 seorang laki-laki yang bernama Sintan yang berasal dari waris (garis keturunan) Sagu menikah dengan seorang perempuan penduduk asli Desa Kartamulia yang saat itu masih bernama dukuh dengan lokasi Seputihan. Pasangan ini dikaruniai anak tunggal/semata wayang bernama Celupang (sebutan tetua “Puyang Celupang”). Setelah bertahun-tahun lamanya menetap di Dukuh Seputihan, terjadilah wabah penyakit yang menyebabkan banyak penduduk yang meniggal dunia. Menurut beberapa kesaksian tetua bahwa dengan wabah tersebut penduduk yang ada disana bersepakat untuk mengungsi agar tidak terserang/terjangkit wabah tersebut. Salah satu diantaranya yang berhasil selamat dari wabah tersebut adalah Celupang (Puyang Celupang) yang kemudian berpindah ke lokasi Desa Kartamulia yang saat itu masih berupa hutan lebat dan menggarap hutan untuk dijadikan Huma (ladang berpindah). Kemudian dari beberapa orang keluarga yang ikut dalam pengungsian tersebut juga menggarap hutan untuk di jadikan Huma dengan jarak yang berjauhan. Pada saat itu belum terbentuk sebuah dukuh/kampung, yang ada hanya pondok-pondok Huma yang mulai bertambah banyak.

         Puyang Celupang kemudian mengambil istri seorang perempuan yang bernama Gorang (waris/garis keturunan) Totai dan dikaruniai anak Tunggal yaitu Jambu yang merupakan sosok awal pendiri Kampung Natai Pemponing. Jambu mengambil istri seorang perempuan yang bernama Ombun dan dikaruniai 4 (empat) orang anak yaitu Gumbang (pertama) laki-laki, Jemanton (kedua) laki-laki, Botong (ketiga) laki-laki dan si bungsu perempuan bernama Urung. Jambu memperoleh sebutan Datuk oleh penduduk karena urutan tingkat panggilan dari urutan keluarga dan juga karena sebutan Datuk untuk orang yang dituakan dan dihormati maka disebutkan Jambu dengan panggilan Datuk Jambu sampai sekarang. Berdasarkan sumber-sumber tetua Desa, disebutkan bahwa Datuk adalah sosok yang sakti dan bijaksana dimana dapat berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus, berkomunikasi dengan binatang, berkomunikasi dengan alam dan dapat melakukan pengobatan tradisional.

         Penduduk saat itu mulai menunjukan hormat dan rasa segan pada Datuk Jambu sebagai sosok yang bijaksana sehingga harus dijadikan panutan dan pengambil keputusan apabila terdapat permasalahan di lingkup beberapa Kepala Keluarga yang masih berupa Huma tersebut. Hari berganti minggu, bulan berganti tahun dan tahun bersilih, maka bertambahlah jumlah penduduk yang ada baik proses kelahiran ataupun penduduk yang masuk untuk berhuma di lokasi tersebut dan terbentuklah kampung. Semakin tersohor pulalah sosok Puyang/Datuk Jambu sampai ke kampung-kampung lain. Kemudian oleh penduduk yang ada ditunjuk/diangkatlah Datuk Jambu sebagai penjaga kampung/tetua kampung dengan sebutan Domung Tungkah/pemangku kampung. Puyang/Datuk Jambu sebagai domung Adat

      Datuk Jambu sebagai domung kemudian memberi nama tempat permukiman tersebut adalah Kampung Natai Pemponing karena saat itu banyak pohon Pemponing di kampung ini. Kemudian Datuk Jambu juga menetapkan sebutan masyarakat setempat dengan nama Dayak Gambu Dalam (artinya masyarakat dayak pedalaman yang bersatu) dengan mulai membentuk kesatuan tata cara atau aturan mengenai masyarakat “Gambu Dalam” dalam bermasyarakat. Mulai menetapkan tatanan peraturan mengenai adat istiadat menyanggar kampung, adat istiadat perkawinan, perceraian, pengobatan tradisional, besorah, tompung tawar, beancak, dan lain-lain yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan atau belum tertulis (lisan), akan tetapi diakui oleh masyarakat setempat sampai sekarang.

       Kemasyhuran dan kesaktian Domung Datuk Jambu kemudian tersiar sampai ketelinga Raja Kotawaringin saat itu. Oleh Raja Kotawaringin kemudian Datuk Jambu diundang ke kerajaan untuk mengetahui kesaktian/kekuatan serta kebijaksanaannya. Kemudian Raja Kotawaringin memberikan gelar kepada Datuk Jambu yang secara turun temurun masyarakat Desa Kartamulia menyebutkan nama panggilan yang diberikan Raja Kotawaringin dengan sebutan Pati Uda. Selanjutnya secara rutin Raja Kotawaringin berkunjung ke Kampung Natai Pemponing menemui Domung Datuk Jambu baik untuk hanya sekedar bertukar pikiran bahkan konon untuk mengadu kekuatan.

       Setelah wafatnya Puyang/Datuk Jambu, Seiringanya perjalanan waktu dari hari ke bulan, bulan ke tahun nama dukuh Gambu Dalam berganti Nama Kampung Pemponing, yang pada saat itu Kepala Kampungnya Bernama KAJAT RAIS. Beliau merupakan sosok pelopor yang mengenalkan kepada masyarakat setempat, tentang aturan-aturan pemerintah yang mengatur tatanan,kewilayahan dalam bentuk Desa. Pada tanggal, 3 Agustus tahun 1960, terjadilah musyawarah/mufakat, yang hasil dari mufakat tersebut, menobatkan nama Kampung Pemponing menjadi Nama Desa Kartamulia, dan sekaligus KAJAT RAIS di tunjuk oleh warga stempat sebagai Kepala Desa Kartamulia untuk memimpin Desa dalam bentuk Pemerintahan Desa.

       Demikian selanyang pandang atau sejarah singkat Desa Kartamulia yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat Medsos, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

Sumber sejarah:

Sejarah Desa Kartamulia di tulis berdasarkan informasi yang di peroleh dari pelaku sejarah, yang mana  pelaku sejarah tersebut adalah masih mempunyai garis keturunan dengan tokoh yang di ceritkan pada sejarah Desa diatas seperti seorang tokoh Datuk Jambu yang tersohor dalam cerita sejarah Desa ini, sehingga keakuratan informasi mengenai sejarah tersebut bisa dijadikan sumber sejarah yang falid.

Nama Pelaku Sejarah:

1. NYUNYUNG (Alm) :  Tokoh  Adat

2. MAJU                     :  Tokoh  Adat

3. MUNDUR               :  Tokoh Adat

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image